Ketika pinball dianggap penjahat: larangan New York dan tembakan yang membebaskannya
Selama lebih dari tiga puluh tahun, pinball adalah permainan terlarang di New York, disita dan dihancurkan dengan palu godam. Pembebasannya pada 1976 datang dari satu demonstrasi keterampilan di hadapan dewan kota. Ini kisahnya.
Sulit membayangkannya sekarang, tetapi ada masa ketika memiliki dan memainkan mesin pinball di New York City adalah tindakan melanggar hukum. Selama lebih dari tiga dekade, dari awal 1940-an sampai pertengahan 1970-an, mesin-mesin pinball dianggap alat perjudian terlarang, disita dalam razia polisi, dan dihancurkan di depan umum. Bagi saya yang tumbuh mencintai deretan mesin arcade, kisah ini selalu terasa mengejutkan sekaligus menggugah, karena ia bukan sekadar cerita tentang sebuah larangan, melainkan tentang pertanyaan mendasar yang menentukan nasib sebuah permainan: apakah pinball itu keberuntungan atau keterampilan. Dan yang paling menakjubkan, pembebasannya akhirnya datang dari satu tembakan bola yang membuktikan jawabannya.
Palu godam sang wali kota
Larangan itu dimulai di New York City pada tahun 1942, di bawah Wali Kota Fiorello La Guardia. Pandangan La Guardia terhadap pinball keras dan tegas: ia menganggap mesin-mesin itu sebagai alat perjudian yang menguras uang receh, bahkan menyebutnya sebagai mesin yang mencuri dari anak-anak sekolah, dan mengaitkannya dengan kejahatan terorganisir. Dalam pandangan itu, pinball bukanlah hiburan, melainkan bentuk perjudian yang harus diberantas.
Pemberantasan itu berlangsung secara harfiah dan dramatis. Ribuan mesin disita dalam razia di seluruh penjuru kota, lalu dihancurkan, kerap dengan palu godam, dalam pemandangan yang sengaja dipertontonkan. Bahkan ada catatan bahwa logam dari mesin-mesin yang dihancurkan disumbangkan untuk kebutuhan perang. Sebagian cerita, seperti puing mesin yang dibuang ke sungai-sungai kota, sering diulang meski detailnya lebih bersifat legenda dramatis daripada fakta yang terkonfirmasi rapi. New York tidak sendirian; kota-kota besar lain seperti Chicago dan Los Angeles juga memberlakukan larangan serupa selama bertahun-tahun.
Persoalan sesungguhnya: keberuntungan atau keterampilan
Di jantung seluruh larangan ini terletak satu pertanyaan hukum yang menentukan, yaitu apakah pinball adalah permainan keberuntungan atau permainan keterampilan. Bila ia permainan keberuntungan, ia tergolong perjudian dan bisa dilarang; bila ia permainan keterampilan, dasar hukum untuk melarangnya runtuh.
Dan di sini ada fakta teknis yang penting dan sering dilupakan: pinball masa awal memang sebagian besar soal keberuntungan. Mesin-mesin pinball tertua belum memiliki flipper, yaitu tuas yang dikendalikan pemain untuk memukul bola. Tanpa flipper, pemain hanya bisa meluncurkan bola lalu menyaksikannya memantul tanpa banyak kendali, sehingga hasilnya memang lebih ditentukan nasib daripada keahlian. Flipper yang dikendalikan pemain baru diperkenalkan pada tahun 1947, pada sebuah mesin buatan Gottlieb, dan penemuan inilah yang perlahan mengubah pinball dari permainan keberuntungan menjadi permainan keterampilan sejati. Ironisnya, larangan tetap berlaku lama setelah flipper membuktikan bahwa pinball kini menuntut keahlian.
Tembakan yang membebaskan
Pembebasan pinball di New York akhirnya datang pada tahun 1976, dan caranya begitu dramatis sehingga terdengar seperti adegan film. Kunci pembebasan itu adalah seorang penulis dan pakar pinball bernama Roger Sharpe, yang diundang untuk memberi kesaksian di hadapan dewan kota guna membuktikan bahwa pinball adalah permainan keterampilan, bukan judi.
Kisah yang paling terkenal menceritakan bahwa Sharpe, untuk membuktikan keterampilan mengalahkan keberuntungan, mengumumkan lebih dulu ke jalur mana ia akan mengarahkan bola, lalu benar-benar melakukannya, mirip legenda pemain bisbol yang menunjuk arah pukulannya sebelum memukul home run. Demonstrasi itu meyakinkan para pembuat kebijakan bahwa pinball memang menuntut keahlian, dan larangan pun dicabut. Demi kejujuran, Sharpe sendiri belakangan mengakui bahwa tembakan penentu itu sebenarnya mengandung banyak keberuntungan meski keterampilan juga berperan, jadi bagian paling dramatis dari kisah ini sebaiknya dinikmati sebagai anekdot yang indah, bukan sebagai bukti ilmiah. Yang jelas dan terdokumentasi adalah bahwa kesaksian Sharpe pada 1976 menjadi momen yang mengakhiri larangan puluhan tahun itu.
Sebuah permainan yang harus membuktikan dirinya
Setiap kali saya memikirkan kisah ini, saya teringat bahwa hal-hal yang sekarang kita anggap remeh kadang harus berjuang keras untuk sekadar diizinkan ada. Pinball, permainan yang bagi saya melambangkan keriangan arcade, pernah dicap sebagai penjahat dan dihancurkan dengan palu godam, hanya karena dianggap terlalu bergantung pada nasib. Dan pembebasannya bergantung pada pembuktian bahwa manusia, dengan tuas kecil dan mata yang jeli, bisa benar-benar mengendalikan bola perak itu.
Ada pelajaran yang lebih luas di dalamnya tentang bagaimana kita menilai permainan, tentang garis tipis antara keberuntungan dan keterampilan, dan tentang bagaimana penemuan sederhana seperti flipper bisa mengubah hakikat sebuah permainan sepenuhnya. Kali berikutnya menyentil bola di mesin pinball, saya suka mengingat bahwa setiap tuas yang saya tekan adalah bukti kecil dari argumen yang dulu harus dimenangkan di hadapan dewan kota: bahwa ini, sungguh, adalah permainan keterampilan.
Sumber
1UP Ditulis oleh Reza Mahendra. Reza Mahendra tumbuh di depan kabinet ding dong dan tidak pernah benar-benar beranjak. Ia menulis tentang gim arcade sebagai budaya dan rancangan, memadukan ingatan lapangan dengan sumber yang bisa ditelusuri.