Kartu gesek, mal, dan suara ding dong: sejarah Timezone dan arcade di Indonesia
Bagi banyak orang Indonesia, arcade berarti Timezone di mal dan sebuah kartu gesek bernama Powercard. Menelusuri asal-usul rantai arcade asal Australia ini, dan mengapa di sini kita menyebut mesin-mesin itu 'ding dong'.
Bagi saya dan banyak orang yang tumbuh di Indonesia pada tahun sembilan puluhan, kata “arcade” jarang benar-benar dipakai. Kami menyebutnya ding dong, dan tempat paling megah untuk memainkannya bukan warung sudut melainkan sebuah gerai terang benderang di dalam mal, dengan lampu berkedip dan lantai yang bergetar oleh suara ratusan mesin. Nama gerai itu, bagi satu generasi, hampir menjadi sinonim dari arcade itu sendiri: Timezone. Menelusuri dari mana Timezone berasal, dan mengapa kita di sini menyebut mesinnya ding dong, membuka sepotong sejarah hiburan yang lebih menarik daripada yang saya duga waktu kecil.
Sebuah nama dari Australia
Timezone bukan berasal dari Amerika atau Jepang seperti yang mungkin dikira orang, melainkan dari Australia. Rantai ini didirikan pada tahun 1978 di Perth, Australia Barat, oleh seorang pengusaha bernama Malcolm Steinberg. Sebelum menjadi Timezone, usaha Steinberg dikenal sebagai Leisure and Allied Industries, sebuah perusahaan yang mengimpor dan membuat mesin permainan sejak jauh sebelumnya. Dari akar itu tumbuh sebuah jaringan yang kelak menyebar ke banyak negara di Asia dan Pasifik.
Perlu satu koreksi terhadap ingatan umum: meski Timezone lahir sebagai perusahaan Australia, kepemilikannya kini berada di bawah kelompok bernama The Entertainment and Education Group. Jadi “milik Australia” tepat untuk asal-usulnya, bukan untuk struktur kepemilikannya sekarang. Menurut catatan Wikipedia, Timezone mulai beroperasi di Indonesia sekitar tahun 1995. Saya sebut angka ini apa adanya sebagai klaim satu sumber; detail seperti kota atau mal pertamanya tidak saya temukan dalam catatan yang bisa diandalkan, jadi lebih baik tidak dipastikan.
Kartu yang menggantikan koin
Salah satu hal yang paling membekas dari pengalaman Timezone, dan yang membedakannya dari ding dong pinggir jalan, adalah kartunya. Alih-alih memasukkan koin atau token ke tiap mesin, pengunjung mengisi saldo ke sebuah kartu gesek magnetik bernama Powercard, lalu menggeseknya di pembaca pada mesin yang ingin dimainkan, dan kredit terpotong dari saldo kartu. Sistem tanpa koin ini terasa modern pada masanya, dan bagi anak-anak ia punya efek psikologis tersendiri: saldo di kartu terasa lebih abstrak daripada koin di kantong, sehingga lebih mudah habis tanpa terasa. Gerai-gerai yang lebih baru bahkan beralih ke kartu tap yang cukup ditempelkan.
Sistem kartu ini bukan sekadar kenyamanan. Ia mengubah ekonomi arcade dari transaksi koin per koin menjadi saldo yang disetor di muka, sebuah model yang jauh lebih menguntungkan operator dan lebih licin bagi pengunjung, sekaligus menghapus salah satu ritual paling khas arcade lama, yaitu menukar uang menjadi segenggam koin sebelum bermain.
Kenapa kita menyebutnya ding dong
Istilah “ding dong” adalah sepenuhnya khas Indonesia; tidak ada orang di Australia atau Amerika yang menyebut arcade dengan kata itu. Di sini, ding dong menjadi nama umum untuk mesin arcade, dan era kejayaannya membentang dari tahun sembilan puluhan sampai awal dua ribuan, ketika gerai-gerai permainan menjadi bagian tak terpisahkan dari pengalaman ke mal. Dari mana kata itu berasal adalah pertanyaan yang, sejujurnya, tidak punya jawaban resmi. Ada cerita yang beredar di komunitas bahwa ia meniru suara mesin pinball tua di ruang-ruang arcade lama, tetapi itu penjelasan rakyat yang enak diceritakan, bukan fakta yang terdokumentasi. Saya sampaikan sebagai cerita, bukan sebagai kepastian.
Yang pasti adalah bahwa kata itu menempel begitu kuat sehingga menjadi penanda generasi. Menyebut ding dong seketika memanggil gambaran tertentu: gerai temaram di mal, joystick yang lengket oleh ribuan tangan, dan suara khas yang bertumpuk dari puluhan mesin berbeda.
Bukan hanya video game
Ingatan saya tentang Timezone dan ding dong bukan cuma tentang mesin video game bergambar, meski itu bintangnya. Ada juga mesin capit tempat kami membuang saldo demi boneka yang cakarnya seperti sengaja dibuat lemah, dan mesin-mesin penukar tiket tempat kemenangan dibayar dalam bentuk gulungan tiket kertas yang dikumpulkan lalu ditukar dengan hadiah di etalase. Saya sampaikan bagian ini sebagai kenangan pribadi lebih daripada catatan resmi, sebab dokumentasi tepercaya tentang jenis mesin spesifik di gerai Indonesia era itu tidak mudah ditemukan. Tetapi bagi siapa pun yang pernah menghabiskan sore di sana, mesin capit dan meja tiket adalah bagian tak terpisahkan dari pengalaman itu.
Menariknya, dunia pembuat mesin dan dunia operator arcade kadang berbagi akar. Ada perusahaan pembuat mesin bernama LAI Games yang berasal dari perusahaan yang sama yang didirikan Steinberg, meski kini berdiri sendiri dan bermarkas di Amerika. Detail semacam ini menunjukkan bahwa industri hiburan koin, dari pembuatan mesin sampai pengoperasian gerai, adalah jaringan yang saling terkait, dengan beberapa nama muncul berulang di titik-titik berbeda.
Kenapa kenangan ini layak dicatat
Menuliskan sejarah ding dong dan Timezone terasa seperti menyelamatkan sepotong ingatan kolektif yang jarang didokumentasikan dengan serius. Arcade di Indonesia bukan sekadar impor budaya asing; ia menjelma menjadi sesuatu yang lokal, lengkap dengan nama sendiri, ritual sendiri, dan tempat sendiri di dalam mal yang menjadi ruang publik baru bagi kota-kota yang sedang tumbuh. Bagi banyak orang, gerai arcade adalah tempat pertama mereka menyentuh sebuah joystick, atau merasakan sensasi menang sebuah permainan yang menuntut refleks, jauh sebelum ponsel pintar membawa permainan ke saku semua orang.
Sebagian besar yang bisa dipastikan dari sejarah ini adalah kerangkanya: sebuah rantai Australia yang berdiri pada 1978, sistem kartu Powercard, era mal pada sembilan puluhan, dan sebuah kata lokal yang bertahan. Sisanya, dari sudut boneka mesin capit sampai suara khas yang memanggil kata ding dong, hidup lebih banyak di ingatan kita daripada di arsip. Dan mungkin justru itu sebabnya ia layak ditulis, sebelum ingatan itu ikut memudar bersama gerai-gerai yang satu per satu tutup.
Sumber
1UP Ditulis oleh Reza Mahendra. Reza Mahendra tumbuh di depan kabinet ding dong dan tidak pernah benar-benar beranjak. Ia menulis tentang gim arcade sebagai budaya dan rancangan, memadukan ingatan lapangan dengan sumber yang bisa ditelusuri.